Sejarah Desa

Kisah Sejarah Desa Cikadu

             Pada abad 18, ada sebuah dukuh terpencil dikelilingi hutan belantara yang dilewati aliran sungai. Dukuh tersebut hanya ditinggali oleh segelintir orang saja, mereka menempati pinggiran sungai polaga. Keseharian mereka masih mempercayai mitos-mitos dan legenda leluhur kejawen, yang merupakan suatu budaya yang sangat melekat dalam masyarakat jawa. Ajaran ini merupakan gabungan dari adat istiadat, budaya, pandangan sosial dan filosofis orang Jawa. Ajaran kejawen hampir mirip seperti agama yang mengajarkan spiritualitas masyarakat Jawa kepada Penciptanya.

        Sekitar tahun 1800 lebih, ada seorang pengembara dari Cirebon Jawa Barat yang menyisir Sungai Comal dari hilir di utara ke hulu selatan. Ia dikenal dengan nama Mbah Among Rogo Jati yang menjadi penyiar agama Islam dari tanah Cirebon. Sesampainya di selatan hulu sungai comal tersebut, ia menemukan pertempuran arus sungai yang begitu besar yaitu bertemunya aliran sungai polaga dan kali yang satunya lagi. Dia kemudian memilih menyusuri belokan (persimpangan kali) yang ke kiri (kali polaga). Ketika sampai disebuah tempat dekat pertemuan  diantara dua sungai (yang dinamakan sawangan) dipinggir sungai itu terdapat pohon durian yang besar kemudian Ia beristirahat dimana ditempat tersebut tinggalah dukuh terpencil yang disebutkan diatas.

        Waktu terus berjalan, mbah Among Rogo Jati akhirnya menetap tinggal disekitar pinggir sungai dibawah pohon durian bersama dengan warga penduduk dukuh tersebut. Mbah Among berbaur hidup rukun dengan penduduk pribumi hingga semakin banyak. Oleh Mbah Among, mulai dikenalkan dan diajarkan ilmu keIslaman. Lambat laun Islam dapat diterima dengan ramah oleh sebagian besar warga hingga menjadi pemukiman penduduk yang kemudian Mbah Among memberi nama CIKADU yang berasal dari dua kata yaitu CI asal bahasa sunda CAI artinya air, KADU artinya DURIAN. jadi CIKADU artinya AIR DURIAN.
       Mbah Among kemudian menikahi perempuan asli Cikadu, konon bernama Nyai Dawilah (belum diketahui secara pasti keluarga Nyai Dawilah). Hingga Nyai Dawilah hamil. Konon ceritanya janinnya kembar. Namun sayangnya terjadi keguguran dan menyebabkan Nyai Dawilah meninggal bersama kedua janinnya. Kemudian singkat cerita kedua janin tersebut dikuburkan dengan nisan membentuk segitiga dari 2 buah batu yang ditata berdiri saling menyandar sebanyak 2 tempat. Waktu terus berlalu. Mbah Among menggunakan tongkat untuk berjalan. Masa senjanya dihabiskan bersama santri santrinya yang setia menemani. Diusianya tersebut sebelum wafat, Ia berpesan kepada salah satu santrinya untuk menjaga makamnya nanti. hingga akhirnya mbah Amongpun wafat. Ia kemudian dimakamkan bersama ditempat dimana kedua janinnya dikubur yang berbentuk batu segitiga saling bersandar. Dari cerita warga, ada yang mempercayai bahwa barang siapa yang sanggup merayap melewati dibawahnya segitiga batu di makam Mbah Among, maka hajatnya akan terkabul.
          Tongkat peninggalannya Mbah Among kemudian ditancapkan disekitar makam. Santrinya yang diberi pesan untuk menunggu makamnya terus memelihara makam tersebut. tanpa terasa sekian waktu telah berlalu, ternyata tongkat yang dulu ditancapkan berubah bertumbuh menjadi tanaman “Wergu”. Hingga saat ini asal muasal pohon Wergu tersebut dipercaya sebagai metamorfosis perubahan bentuk tongkat Mbah Among. Sebuah kebetulan atau tidak bahwa manfaat pohon wergu tersebut cocok sekali dengan karakter Cikadu baik secara Geografis maupun perairan sungainya. Akar wergu yang tumbuh tunggal menjerumus kedalam tanah, mampu menjadi penguat kestabilan tanah agar tidak mudah longsor. Selain itu, batang pohon tersebut, bisa juga digunakan untuk “Joran” pancing, hal ini cocok juga dengan perairan desa Cikadu yang memiliki banyak sungai besar.
         Pohon wergu tersebut terus tumbuh hingga tinggi mengelilingi makam Mbah Among menjadi rindang dan lembab sehingga banyak ditumbuhi lumut. Dulu lumut tersebut tumbuh subur menebal seperti karpet. Santri yang menunggui sangat setia merawat makam Mbah Among. Hingga akhirnya banyak warga yang menyebutnya Kyai Nunggu. Santri tersebut terus menunggui makam sampai akhirnya Ia meninggal. Dan kemudian dimakamkan dibelakangnya makam Mbah Among. Namun dilain sumber, banyak juga yang menyebut bahwa Kyai Nunggu adalah sebutan lain Mbah Among itu sendiri. 
        Seiring bejalannya waktu, Cikadu yang berasal dari pemukiman kecil menjadi sebuah Desa yang belum berdiri pemerintahan sendiri. Dahulu wilayahnya masih ikut wilayah Kademangan Bongas. Pada tahun 1864, mulailah berdiri pemerintahan Desa Cikadu yang dipimpin pertama kali oleh seorang Bekel (lurah) bernama Truna Kepet. Konon ceritanya seorang yang bernama Truna Kepet itu awalnya mendapat tugas dari Kademangan Bongas untuk Anclong (ronda) ke Kadipaten beserta utusan dari Kademangan lain.di saat para Anclong (ronda) istirahat tidur Kanjeng Bupati keluar berkeliling melihat –lihat keadan sekitar Kadipaten, Saat berkeliling Kanjeng Bupati melihat ada sinar yang menyinari Pendopo Kadipaten dan setelah dilihat ternyata sinar tersebut keluar dari Puser salah seorang Anclong (ronda) yang sedang istirahat tidur.
       Kanjeng Bupati memotong kain dari pemilik sinar dengan tujuan kesokan harinya akan mengetahui siapa yang pusernya bersinar dan menerangi Pendopo Kadipaten. Setelah mengetahui pemiliknya adalah Truna Kepet maka Kanjeng Bupati menugaskan Truna Kepet untuk menjadi Bekel (lurah) di Desa Cikadu, semenjak itulah Desa Cikadu ada pemerintahan yaitu mulai tahun 1864-1869 yang dipimpin oleh Truna Kepet menjabat selama 5 tahun dan berasal dari Dusun Legok. Kemudian pada tahun 1870- 1873 oleh Truna Kepet diserahkan jabatannya kepada seseorang yang bernama Sedur menjabat selama 3 tahun berasal dari Dusun Kalibengang.
          Pada tahun 1873 mulailah pengangkatan Bekel (lurah) dengan cara pemilihan yaitu sistem cecekan (bergandengan memegang pundak). Caranya adalah calon Kepala Desa berdiri di depan dan diikuti oleh para pendukungnya yang menyambung di belakang dengan memegang pundak orang yang didepan ,kemudian dilihat siapa yang pendukungnya paling banyak maka itulah yang jadi Bekel (lurah) dan pada saat itu yang menang adalah Catim yang terkenal dengan sebutan lurah Kebedil. Ia menjabat selama 15 tahun dari tahun 1874-1889 ,dan berasal dari Cikadu Krajan. Pada tahun 1890 diadakan pemilihan kembali dan terpilihlah Darkim yang terkenal dengan sebutan lurah Pakel dimana dia menjabat selama 5 tahun yaitu sejak tahun 1890-1895, berasal dari Cikadu Krajan. dan 4 tahun kemudian dipimpin oleh lurah Meskat yang menjabat dari tahun 1896- 1900 dan berasal dari Cikadu Krajan.
        Pemerintahanpun berjalan mengikuti perkembangan jaman dan budaya yang ada, salah satu bukti perkembangannya adalah proses pemilihan Bekel (lurah). Di Desa Cikadu pemilihan lurah juga mengalami perubahan dari Cecekan menjadi Bitingan /Biting (potongan lidi) yang di masukan ke dalam Bumbung (potongan bambu). Caranya adalah satu keluarga memperoleh 1 (satu) Biting/potongan lidi, selanjutnya dimasukan kedalam salah satu Bumbung (potongan bambu) yang sudah disiapkan oleh masing masing calol Bekel (lurah) dan yang memperoleh Biting paling banyak itulah yang jadi. cara seperti ini sampai 5 (lima) kali pergantian Bekel (lurah) yaitu mulai dari :
  • Lurah Elas menjabat selama (16 tahun) dari tahun 1900-1916 asal Cikadu KrajanPemekaran terjadi pada pertengahan tahun 1908 pada saat kepemimpinan Lurah Elas. Dimana sejak kepemimpinan Lurah Kepet sampai Lurah Elas pertengahan yaitu sejak tahun 1864–1907 Desa Jojogan (Cikadu Kulon) saat itu masih ikut wilayah Desa Cikadu.Pada masa kepemimpinan lurah Elas wilayah Desa Cikadu dibagi menjadi (2) dua yaitu:
    1. Cikadu Wetan dijabat oleh lurah Elas ,yang sekarang disebut Desa Cikadu .
    2. Cikadu Kulon dijabat Lurah Nala Merta ,yang sekarang disebut Desa Jojogan.
  • Lurah Ahmad Sutandria terkenal dengan sebutan lurah Blendos menjabat selama (17 tahun) dari tahun 1917-1931 asal Cikadu Krajan
  • Lurah Dilam terkenal sebutan Mbah Perlot menjabat 9 tahun dari tahun 1932-1937 asal Cikadu Krajan.
  • Lurah Suma Sugana (Guna Sumareja) menjabat 8 tahun dari tahun 1938-1944 asal Dusun Kalilingseng
  • Lurah Radu (Merta Suwira) menjabat selama 4 tahun dari tahun 1945-1948 asal Dusun Legok.
  • Pada tahun 1949-1951, 3 tahun kepemimpinan Desa Cikadu dijabat oleh lurah Preman (Abdurahman) dari Cikadu sebagai wakil atau sekarang disebut PJS (pejabat sementara) sebelum diadakannya pemilihan.

Kemudian pada tahun 1952 barulah pemilihan Bekel (lurah) dengan cara mencoblos gambar. Berikut ini adalah urutan kepemimpinan Lurah dan Kepala Desa Cikadu, yaitu :

  1. Lurah Truna Kepet dari Legok (5th) Tahun 1864-1869
  2. Lurah Sedur dari Kalibengang (1th)
  3. Lurah Catim/Kebedil dari Krajan (15th)
  4. Lurah Darkim/Pakel dari Krajan (5th)
  5. Kamitua (Wakil Lurah) Meskat dari Krajan(1th)
  6. Lurah Elas/ Kasor dari Krajan (16th) Tahun 1899-1915
  7. Lurah Sutandria/ Blendos dari Krajan (17th) Tahun 1915-1932
  8. Lurah Dilam/ Perlot dari Krajan (8th)Tahun 1932-1940
  9. Kamitua (Wakil Lurah) Murad
  10. Lurah Suma Sugana/Guna Sumareja dari Kalilingseng (6th) Tahun 1940-1946
  11. Lurah Radhu/Merta Suwira dari Krajan (3th) Tahun 1946-1949
  12. Kamitua (Wakil Lurah) Abdurahman/Preman dari Krajan (3th) Tahun 1949-1952
  13. Lurah Sumardi dari Krajan (19th) Tahun 1952-1971
  14. Wakil Lurah H. Ahmad Suraji
  15. Lurah H. Ahmad Suraji dari Krajan (18th)Tahun 1971-1990
  16. Wakil Kades Jatno
  17. Kades Yunus dari Krajan (8th)Tahun 1991-1999
  18. Kades H. A. Khusaeri dari Krajan (2,5th) Tahun 1999-2002
  19. PJS Kades Warsan dari Krajan (1th) Tahun 2002-2003
  20. Kades Yunus dari Krajan (10th)Tahun 2003-2013
  21. PJS Kades Tohid
  22. Kades Khunaeni dari Krajan (6th) Tahun 2013-2019
  23. Pj Kades Siti Warkiyah dari Majakerta Tahun 2019- sekarang

Sesudah masa kepemimpinan Ibu Kades Khunaeni, pada tanggal 19 Juli tahun 2019 Kepala Desa dijabat oleh Penjabat Kepala Desa (Pj Kades) yang diambil dari pejabat kecamatan yaitu Ibu Siti Warkiyah Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kasi PMD) Kecamatan Watukumpul yang berasal dari Desa Majakerta.

Dari perkembangan masa ke masa dan pergantian kepemimpinan di Desa Cikadu banyak mengalami perubahan dan kejadian–kejadian antara lain:

  1. Masa pemerintahan Lurah Sumardi, yaitu pada tahun 1951 dengan di pelopori oleh KH Nawawi dan K Siroj mendirikan Sekolah Madrasah Diniyah walaupun belum didirikan gedung permanen
    • Tahun 1957 terjadi kebakaran besar yang melanda Desa Cikadu dan menghanguskan 136 rumah. Hingga praktis pada masa itu sarana dan prasarana pemerintahan serta infrastuktur perdesaan habis total.
    • Tahun 1959 masyarakat Desa Cikadu mulai bangkit dengan membangun sebuah gedung pendidikan Agama Islam (Madrasah Diniyah) 3 lokal dengan nama Madrasah Diniyah Darul Aman.
    • Tahun 1961 Desa Cikadu membangun 4 lokal Gedung Sekolah Dasar (istilah dahulu Sekolah Rakyat), mulai saat itulah anak –anak Desa Cikadu bersekolah.
    • Warga Masyarakat membangun Masjid Al Istighfar Tahap I
  2. Masa pemerintahan Kepala Desa H. Ahmad Suraji mulai tahun 1971 pembangunan terus dilaksanakan dengan membangun sarana prasarana seperti :
    • Pembangunan jalan raya dengan bergotong royong sehingga mobil mulai bisa masuk Desa Cikadu.
    • Pembangunan Balai Desa permanen hingga pelayanan masyarakat mulai tertib.
    • Pembangunan pertanian dan juga penghijauan hingga berhasil pada tahun 1978 Desa Cikadu mendapat penghargaan sebagai Juara I (satu ) lomba Penghijauan tingkat Provinsi.
    • Terjadi kebakaran besar pada hari Jum’at tanggal 9 september 1982 yang menghanguskan sekitar 35 rumah sehingga terjadi pelebaran pemukiman hingga ke wilayah lempong ( sekarang Rt 05 ).
    • Pada tahun 1982 juga, Lurah Ahmad membangun Pasar Desa hingga sampai sekarang untuk pusat perbelanjaan masyarakat Desa Cikadu dan sekitarnya.
    • Pembangunan Gedung Puskesmas Cikadu
    • Pembangunan Jembatan Kali Bawahan
    • Pembangunan Gedung SD 3 Cikadu di Dusun Krajan
    • Pembangunan Gedung SD 2 dan 4 Cikadu di Dusun Kalilingseng
    • Pembangunan Gedung SD 5 Cikadu di Dusun Rasban
    • Pembangunan Benteng atau Senderan Beton Jalan Barat Kalen Pangpung sampai Watu Galas
    • Pembangunan Jembatan Kali Gendon
    • Pembangunan Jembatan Sungai Polaga Cikadu yang Pertama
    • Pembangunan Jembatan Kali Prangkokan
  3. Masa pemerintahan Kepala Desa Yunus periode pertama yaitu tahun 1990-1998 banyak pembangunan yang telah dilaksanakan diantaranya :
    • Pembangunan Gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga anak –anak Desa Cikadu mengenyam pendidikan SMP lebih dekat.
    • Pembangunan penerangan listrik hingga Desa Cikadu tidak lagi gelap
    • Pengaspalan Jalan Cikadu – Kalilingseng
    • Warga Masyarakat bersama membangun Masjid Al Istighfar tahap II
  4. Masa pemerintahan Kepala Desa H. A. Khusaeri membangun sarana Olah Raga yaitu Lapangan Sepak Bola Kukusan.
  5. Masa pemerintahan Pejabat Sementara PJS Warsan terjadi bencana besar tanah longsor yang menghancurkan 212 rumah dan 2 masjid di Dusun Legok Lor Dan Kidul,126 rumah dan 1 masjid di Dusun Kalibengang, serta 80 rumah dan 1 musola di Dukuh Rasban. Sehingga seluruh warga Dusun Legok direlokasikan ke wilayah Sigebrug Tritis , warga Dusun Kalibengang dan Dukuh Rasban direlokasikan ke dekat Jonggrangan (sekarang dinamakan Tambah Mulya) .
  6. Di kepemimpinan Kepala Desa Yunus periode yang ke II (dua) banyak sekali pembangunan baik sarana maupun prasarana antara lain :
    • Peresmian Relokasi Warga Legok ke Tritis di hadiri oleh Gubernur Jawa Tengah Bapak Mardiyanto dan Bupati Pemalang Bapak Machrus
    • Pembangunan Poskesdes
    • Pembangunan sarana olah raga ( Lapangan Sepak Bola Sikrakal ).
    • Pembangunan sarana air bersih melalui Program Pamsimas Perdesaan.
    • Pengerasan jalan dari dusun kalilingseng menuju ke dusun tembelang melalui progran PNPM Perdesaan.
    • Pengaspalan jalan bentus jonggrangan melalui program PNPM Perdesaan.
    • Pemasangan jaringan listrik dari Kalilingseng ke Tembelang.
    • Pembangunan infrastuktur lainnya serta peningkatan SDM,baik SDM perangkat melalui pelatihan maupun masyarakat melalui penyuluan-penyuluhan.
    • Yang terus belanjut sampai sekarang dengan di bentuknya tim penyusun RPJM-Des untuk menyusun kegiatan /program pembangunan 5 (lima ) tahunan
    • Warga Masyarakat bersama membangun Masjid Al Istighfar tahap II
    • Pembangunan Jembatan Sungai Polaga Cikadu tahap II
    • Pengaspalan jalan Cikadu – Kalilingsen
    • Peresmian Masjid Al Istighfar tahap II dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Syiroj dan Bupati Pemalang Bapak Junaedi SH
  7. Kepemimpinan Kepala Desa Khunaeni
    • Pembentukan Badan Usaha Masyarakat Desa (BUMDES)
    • Pembentukan Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD)
    • Pembangunan Gedung Paud Gumilang di Rt 07/02
    • Pembangunan Jalan dan Drainase Dusun Krajan
    • Pengadaan Mobil Siaga
    • Pembangunan Jembatan Kali Kadu
    • Pembangunan Jalan Lingkungan Dukuh Rasban
    • Pembangunan Jalan Lingkungan Dukuh Legok
    • Pembangunan Jalan Desa Dukuh Tembelang
    • Pembangunan Jalan Desa Dukuh Jonggrangan
    • Pembangunan Jalan Desa Dukuh Bawahan
    • Pembangunan Jalan Lingkungan Dukuh Kalibengang
    • Pembangunan Jalan Lingkungan Dk Kalilingseng
    • Pembangunan Jalan Makam Mbah Among Rogojati
    • Pembangunan Jalan Pondok ke Rt 8
      Masa kepemimpinan Penjabat / Pj Kepala Desa Ibu Siti Warkiyah saat awal ditandai dengan diadakannya kegiatan Khaul Mbah Among Rogo Jati, Kirab Klambu dan Pusaka, serta Dhahar Ketupat Sesarengan. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 10 Muharram dan akan terus menjadi agenda rutin tahunan Desa Cikadu. Selain bernuansa religi, juga sebagai kegiatan yang mengexplore wisata desa, terbukti jumlah pengunjung yang sangat banyak berdatangan baik dari warga Desa Cikadu sendiri maupun dari luar yang datang.
            Seiring berjalannya waktu, Desa Cikadu terus berkembang, pembangunan infrastruktur terus dikerjakan sesuai apa yang diamanatkan dari hasil Musdes, dari kita, oleh kita, untuk kita. Dengan semboyan yang familier
“AYO TINGKATKAN KEBERSAMAAN KITA, BERSAMA KITA BISA!!! SEPI ING PAMRIH…RAME ING GAWE…